Teknik Berjalan Untuk Mendaki dan Menuruni Pegunungan

Suetoclub's Blog

Berjalan, mungkin tidak begitu diperhatikan oleh kebanyakan orang, karena setiap hari dilakukan dari mulai kecil mulai berjalan hingga dewasa. Tetapi, musibah saat pendakian gunung justru datang pada kaki, alat manusia untuk berjalan. Mengapa? Cara berjalan yang salah bisa menyebabkan kaki cepat lelah, lecet hingga bengkak karena salah tumpuan.

Usahakan berjalan dengan badan lurus untuk menyeimbangkan badan atas dan bawah. Pusatkan beban di area pinggang, bukan pundak. Selalu bertumpu pada tumit saat kaki mendarat, kaki harus sedikit membengkok dengan santai, tidak boleh lurus, dan jatuh sejajar dengan badan.

Mengambil jarak langkah yang terlalu lebar dari badan sangat tidak disarankan karena akan beresiko cedera lebih besar dan menguras energi.

Saat kaki telah mendarat sepenuhnya, maka berat tubuh akan bertumpu pada seluruh permukaan kaki sebelum memulai untuk melangkah pergi.

www.belantaraindonesia.org

Tumpuan berat kini akan beralih pada kaki sebelah, dimana kaki Anda yang akan melangkah maju menjadi tuas yang kuat untuk mendorong tubuh…

Lihat pos aslinya 285 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kehangatan sinar matahari Plawangan Sembalun 3726 mdpl

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Petilasan Mbah Mendek

wilayah mbah mendek

Komplek mbah mendek

Salah satu makam tua terkenal adalah makam Mbah Mendek di Desa Kutogirang, Mojokerto, Jawa Timur.

Mendek, menurut cerita lisan, seorang penyebar Islam di akhir Kerajaan Majapahit. Orang sederhana yang rendah hati. Ada 5 wejangan beliau yang masih terpasang di pesarean: sabar, nrimo, temen (serius), ikhlas, budi pekerti luhur.

Kompleks makam ini begitu populernya sehingga dibuatkan pendapa, musala, kakus, kamar mandi. Ada juru kunci alias kuncen yang setiap hari merawat dan menjaga kebersihan. Karena itu, makam Mendek sangat bersih dan terawat.

Saat mampir ke sana saya lihat sekitar 10 pria sedang istirahat di pendapat. Gelar tikar, tidur. Ada lagi 5 orang lagi salat di musala. Tenang sekali, maklum tempat sembahyang atau meditasi.

Omong punya omong, ternyata banyak kenalan saya dari Sidoarjo aktif berziarah ke sini. Katanya, cari ketenangan. Dari Mendek biasanya ada yang lanjut ziarah ke petilasan Narotama dan Jolotundo, sekitar 8 km.

“Saya pernah 4 tahun 3 bulan di sini,” kata Yasin dari Krembung Sidoarjo. Pada hari-hari tertentu dia rutin ke Mendek untuk refreshing spiritual, katanya.

Koh Jiang, orang Tionghoa dari Buduran, pernah berkelana setahun lebih di Mendek. Melarikan diri dari konflik keluarga. Di petilasan lawas ini dia mengaku tenang, sabar dan ikhlas. “Di rumahku orang hanya bicara soal uang uang uang,” katanya serius.

Pada hari-hari keramat, khususnya Jumat Legi, kompleks seluas hampir satu lapangan bola ini ramai nian. Biasanya rombongan dari Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto dan kota-kota yang jauh. Sembahyang, salat, semedi, atau sekadar duduk-duduk mengharap belas kasihan Sang Pencipta.

“Tempatnya sepi sehingga bagus untuk merenung,” kata Jiang, Tionghoa yang rupanya sudah jadi penganut kejawen itu. “Kita kan perlu melestarikan tradisi dan budaya leluhur.”

Gambar | Posted on by | 3 Komentar

PETIRTAAN BELAHAN

belahan_temple_02

 

Petirtaan Belahan, lebih dikenal dengan candi Belahan adalah sebuah pemandian bersejarah dari abad ke 11, di masa kerajaan Airlangga. Petirtaan Belahan terletak di sisi timur gunung Penanggungan, tepatnya di Dusun Belahan Jowo, Wonosunyo, Kecamatan Gempol. Menurut sejarah, selain sebagai tempat pertapaan Prabu Airlangga, petirtaan ini juga di fungsikan sebagai pemandian selir-selir Prabu Airlangga. Oleh karena itu, sebagai bentuk pengabdian dibangunlah 2 patung permaisuri Prabu Airlanga, yaitu Dewei Laksmi dan Dewi Sri. Pada dua patung tersebut, mengalir aliran air dari bentuk Payudara patung, dan karenanya petirtaan ini terkadang di sebut sebagai Sumber Tetek (Tetek : Payudara, Jawa)

belahan_temple_04

Dipublikasi di candi | 4 Komentar

PETIRTAAN JOLOTUNDO

jolotundo

Alamat
Desa Seloliman
Kecamatan Trawas
Mojokerto

Petirtaan Jolotundo ini merupakan peninggalan tertua di Gunung Penanggungan yang diperkirakan berkaitan erat dengan Raja Airlangga. Sebagian orang mempercayai bahwa mandi di tirta akan membuat awet muda dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Air yang dari kedua tempat pemandian tersebut nantinya menaglir keluar dan menyatu ke bagian tengah dalam bentuk kolam yang dipenuhi ikan-ikan.

Dipublikasi di jolotundo | Meninggalkan komentar

yudasmoro.net

Waktu pun berganti dan tak ada yang mengetahui kelanjutan nasib Dewi Anjarwati. Konon ia menghabiskan sisa hidupnya di bawah air terjun. Tak ada yang tahu.

Alkisah zaman dahulu kala hiduplah seorang pemuda bernama Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro yang baru saja menikahi Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi. Dengan usia pernikahan mereka yang masih muda, Raden Baron Kusumo berniat memboyong Dewi Anjarwati menuju Gunung Anjasmoro yang menurut adat Jawa adalah terlarang bagi pengantin baru.

Lihat pos aslinya 552 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

yswitopr

Tak salah rasanya menobatkan Malang sebagai kota yang eksotik. Ada banyak tempat yang menawarkan keindahan dan kesejukan alam. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya, khususnya menjelang ulang tahun komunitas Kampret yang pertama, karena boleh menikmati sedikit eksotisme di Malang dan sekitarnya. Sebuah pengalaman yang luar biasa dan ingin saya bagikan kepada Anda semua.

Dari Pacet, saya bersama beberapa teman menerobos jalan berkelok-kelok di gunung Welirang. Gunung Welirang ini di apit oleh gunung Arjuna dan Pademanan. Jalan berkelok-kelok dengan variasi turunan dan tanjakan demikian menantang. Apalagi, di kanan kiri jalan terpampang pemandangan alam yang cantik. Hingga akhirnya kami sampai di tempat pemandian air hangat Cangar. Kami pun mampir sejenak untuk melepaskan penat sembari merendam kaki di kolam yang ada. Hangatnya air seolah menghilangkan seluruh kepenatan perjalanan. Sayangnya, keindahan tempat ini tidak diimbangi dengan pengelolaan tempat yang optimal. Di beberapa bagian terdapat bangunan yang mulai rusak. Padahal, pengunjung yang datang ke tempat ini…

Lihat pos aslinya 512 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar